Sabtu, 16 Oktober 2010

Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing dan langit-langit FKUB/RSSA di Ende dan Soe NTT

Tim Operasi Bakti Sosial FKUB :
1.  Prof.Dr.dr.Bambang Parijianto, SpB,SPBP (K) (Ketua TIM)
2.  dr.Herman Yosef L, SpBP (Koordinator Lapangan)
3.  dr.Eko Herihadi, SpBP (Spesialis Bedah Plastik)
4.  dr.Karmini, Sp.An (Spesialis Anastesi)
5.  dr.Anton Wuri (PPDS Anestesi)
6.  Wibi Riawan, S.Si (STAFF Peneliti Biomedik)
7.  Sri Suprapti (Penata Bedah Sentral)
8.  Nanik Nurwiyati, Amd. Kep (Penata Anestesi)

Jadwal Kegiatan :
  1. TIM berangkat tanggal 23 Juli 2010 berangkat menuju Kupang, bermalam di Kupang
  2. 24 Juli 2010 berangkat ke Ende, melaksanakan operasi sampai dengan tanggal 29 Juli 2010
  3. 30 Juli 2010 berangkat menuju kupang, bermalam dua hari di Kupang untuk menunggu datangnya pasien di Soe.
  4. 1 Agustus 2010 berangkat ke Soe, persiapan Tim operasi.
  5. 2-4 Agustus melaksanakan operasi di Soe
  6. 5 Agustus 2010 kembali ke Surabaya dilanjutkan ke Malang
  7. Kegiatan di Larantuka (rencana tanggal 29-31 Juli 2010) batal karena alasan keamanan, bersamaan dengan Baksos Katarak tim lain di RSU Larantuka.
  8. di Ende jumlah Pasien 54 Pasien
  9. Ceramah tentang perawatan luka bakar dan pengambilan sampel dan jaringan dari pasien yang dioperasi.
  10. di Soe jumlah operasi 40 pasien.
  11. Pendanaan dari Dekan FKUB untuk operasi 100 pasien @ 500.000,- sejumlah Rp. 50.000.000, telah digunakan sejumlah Rp. 47.000.000 dan sisa Rp. 3000.000,-

Kamis, 14 Oktober 2010

Buku Pedoman Pengabdian Masyarakat FKUB

BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Kegiatan Pengabdian Masyarakat merupakan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi yang diamanatkan kepada para staf pengajar selain kegiatan pendidikan dan pengajaran, serta penelitian. Kendati kegiatan utama di perguruan tinggi adalah pendidikan – pengajaran akan tetapi kegiatan yang lain juga perlu dialokasikan secara berimbang. Dengan demikian apa yang diharapkan dalam Tri Darma Perguruan tinggi dapat tercapai.
Kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya untuk lebih mendekatkan perguruan tinggi dengan masyarakat khususnya yang tinggal di sekitarnya. Tak jarang perguruan tinggi dianggap sebagai menara gading karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan perguruan tinggi kurang menyentuh dan memberi dampak positif atau nilai tambah pada masyarakat di sekitarnya.
Dari kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan terjadi transfer of knowledge, technology, and skill dari perguruan tinggi kepada masyarakat. Sebaliknya, perguruan tinggi juga bisa mendapatkan transfer pengetahuan, teknologi, dan ketrampilan dari masyarakat sehingga bisa dikembangkan lebih baik lagi. Lebih jauh lagi, kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan dapat melahirkan sinergi antara masyarakat dan perguruan tinggi untuk mengatasi masalah yang berkembang di masyarakat.
Idealnya kegiatan pengabdian masyarakat bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri dan terlepas dari kegiatan pendidikan dan penelitian. Kegiatan staf pengajar di bidang pendidikan dapat memperkaya pengetahuan, ketrampilan, dan kepekaannya untuk diaplikasikan di bidang penelitian. Dari kegiatan penelitian dapat hasilnya dapat mematangkan staf pengajar dalam bidang pendidikan dan mengaplikasikannya dalam pengabdian masyarakat. Dan dari pengabdian masyarakat akan ditemukan realita di masyarakat yang dapat menjadi bahan penelitian dan pendidikan – pengajaran.
Fakultas Kedokteran sebagai bagian dari civitas akademika Universitas Brawijaya mempunyai potensi yang sangat besar dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Saat ini fakultas yang terdiri dari Program Pendidikan Dokter, Program Studi Ilmu Keperawatan, dan Program Studi Ilmu Gizi telah menghasilkan banyak karya di bidang pendidikan – pengajaran dan penelitian baik yang dilakukan oleh staf pengajar maupun oleh mahasiswanya. Karya-karya tersebut dapat menjadi data dasar untuk dilakukannya kegiatan pengabdian masyarakat.
Pada kenyataannya potensi yang besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh staf pengajar dan mahasiswa yang ada di lingkungan Fakultas Kedokteran. Kegiatan pengabdian masyarakat seringkali dianggap sebagai kegiatan yang terlepas dari kegiatan pendidikan-pengajaran dan penelitian, dan bukan sebagai kegiatan yang saling mendukung. Sehingga kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi yang ada menjadi kurang efisien dan efektif. Terciptanya sinergi antara masyarakat dan perguruan tinggi menjadi jauh dari harapan.
Seyogyanya Fakultas Kedokteran dapat mengambil peran yang lebih besar lagi dalam membantu mengatasi masalah kesehatan terutama yang terjadi di Malang Raya dan sekitarnya. Kegiatan pendidikan-pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat baik yang dilakukan oleh staf pengajar maupun mahasiswa mestinya dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah kesehatan khususnya yang ditemui di wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota malang, dan Kota Batu).

2. Tujuan
Buku ini dimaksudkan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pengabdian masyarakat yang efektif, efisien, dan bermutu.

3. Sasaran
Sasaran dari buku ini adalah seluruh staf pengajar di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

BAB II
PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2.1. Visi dan Misi
Mengacu pada visi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yaitu Menjadi Institusi Pendidikan Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang Terkemuka dan Bertaraf Internasional, maka visi Unit Pengembangan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya adalah Menjadi lembaga pengabdian masyarakat bidang kedokteran dan ilmu kesehatan yang terkemuka dan bertaraf internasional.
Mengacu pada misi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yaitu Merintis Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Bidang Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Terkini serta Bermutu maka misi Unit Pengembangan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya adalah merintis kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkini serta bermutu.

2.2. Tujuan dan Target
2.2.1. Tujuan Umum
Tercapainya hasil penyelenggaraan pengabdian masyarakat fakultas di bidang kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan untuk dimanfaatkan bagi pengembangan ilmu, pendidikan, serta pelayanan kepada masyarakat yang menjadi stakeholdernya.

2.2.2. Tujuan Khusus :
1. Meningkatkan sensitifitas staf pengajar, mahasiswa, dan masyarakat dalam menemukan masalah kesehatan
2. Mendapatkan data dan dokumentasi tentang masalah kesehatan yang ada dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya
3. Mendapatkan data tentang potensi penanggulangan masalah kesehatan
4. Meningkatkan kerjasama dengan beberapa pihak terkait untuk menanggulangi masalah kesehatan
5. Menumbuhkan munculnya gagasan baru dan kreatif dalam menyelesaikan masalah kesehatan
6. Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan masyarakat tentang masalah kesehatan
7. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan
8. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan
9. Menyediakan tempat bagi staf pengajar dan mahasiswa untuk melakukan kegiatan sosial
10. Mendapatkan data mengenai dampak program yang dijalankan terhadap masalah kesehatan
11. Mendesiminasikan pengalaman dan hasil kegiatan kepada pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kerjasama dan integrasi program

2.2.3. Target :
1. Meningkatnya partisipasi staf pengajar dan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat
2. Terlaksananya program
3. Terwujudnya kerjasama lintas sektor
4. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diketahui masyarakat umum
5. Tersusunnya dokumentasi hasil kegiatan dan masalah kesehatan
6. Masyarakat peka terhadap masalah kesehatan
7. Masyarakat merasakan kegiatan pelayanan dan pengembangan masyarakat yang dilakukan Tim pengabdian masyarakat
8. Terwujudnya sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat

2.3. Sasaran
1. Meningkatnya jumlah dan mutu pengabdian kepada masyarakat baik dalam pendidikan maupun pelayanan kepada masyarakat di bidang kedokteran dan kesehatan.
2. Menjadi pelopor pemberdayaan kader kesehatan desa dalam penanganan kedaruratan medik tingkat dasar.

2.4. Kebijakan
Pengembangan Corporate Social Responsibility (CSR), kepekaan social dan peran aktif fakultas dalam menyelesaikan permasalahan kedokteran dan kesehatan di masyarakat.



2.5. Grand Strategy
Meningkatkan Mutu Pengabdian Masyarakat yang Bertaraf Internasional dengan cara menjadikan FKUB sebagai pelopor pemberdayaan kader kesehatan desa dalam penanganan kegawat-daruratan kesehatan tingkat dasar

2.6. Strategi
1. Pendidikan kepada masyarakat yang dimaksudkan memberikan pembelajaran, ilmu dan ketrampilan kepada masyarakat agar dapat memberdayakan diri dalam berbagai aspek kedokteran dan kesehatan, khususnya dalam aspek pencegahan, promotif, serta kedokteran keluarga.
2. Pelayanan kepada masyarakat yang dimaksudkan memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, khususnya dalam aspek kuratif dan bantuan penanganan kedokteran dan kesehatan daerah bencana.

2.7. Program
Secara operasional program pengabdian masyarakat di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dikelompokkan menjadi dua (2) yaitu :
1. Program Bersama
 Program ini melibatkan perwakilan staf pengajar dari berbagai laboratorium dan jurusan terkait
 Tema dari program ini ditentukan berdasarkan kesepakatan tim inti UPPM setelah dikonsultasikan dengan pimpinan FKUB
 Penanggung jawab dari kegiatan ini akan ditentukan melalui rapat yang melibatkan perwakilan staf pengajar dari berbagai laboratorium dan jurusan terkait
2. Program Laboratorium/ Jurusan
 Program ini melibatkan staf pengajar dari laboratorium/ jurusan tertentu saja
 Tema dari program ini ditentukan berdasarkan kesepakatan tim laboratorium/ jurusan pengusul
 Penanggung jawab dari kegiatan ini adalah salah satu staf pengajar dari laboratorium/ jurusan pengusul

2.8. Kegiatan
2.8.1. Bidang Kegiatan
Sesuai dengan misi organisasi maka kegiatan-kegiatan dapat dirangkum dalam 2 bidang yaitu :
a. Penelitian Masyarakat (Community Study)
 Penelitian ini dimaksudkan untuk menunjang kegiatan pengembangan masyarakat baik dalam perencanaan maupun evaluasi.
 Penelitian akan difokuskan terlebih dahulu pada 3 bidang kajian seperti dalam perumusan masalah.
b. Pengembangan Masyarakat (Community Development)
Kegiatan-kegiatan untuk pengembangan masyarakat terutama dimaksudkan untuk tercapainya perilaku sehat yang berkelanjutan. Karena itu program bersama atau program laboratorium/ jurusan yang diusulkan hendaknya mencakup kegiatan-kegiatan berikut :
1. Pelayanan Masyarakat (Community Services)
Pelayanan kepada masyarakat dimaksudkan sebagai kegiatan public outreach untuk lebih memperkenalkan keberadaan, visi, dan misi kegiatan ini kepada masyarakat luas baik yang menjadi sasaran langsung maupun bukan sasaran langsung dari kegiatan.
Kegiatan ini dapat juga diadakan dalam rangka memperingati hari-hari yang berhubungan dengan kesehatan, serta hari besar nasional/ daerah.
Pelayanan masyarakat ini dapat berupa :
a. Pencegahan primer :
• Vaksin
• Pemberian Makanan Tambahan
• Pemberian Lipiodol
• Pemberantasan Sarang Nyamuk
b. Pencegahan sekunder (tindakan kuratif )
• Screening/ Pemeriksaan gratis
• Pengobatan massal
• Khitanan massal
• Operasi katarak gratis
• Operasi bibir sumbing gratis
2. Pemberdayaan Masyarakat (Community Empowering)
Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menunjang kemandiriannya. Kegiatan-kegiatan ini meliputi :
• Pelatihan
• Pendampingan masyarakat
• Pembentukan kader dari kalangan masyarakat setempat
• Kunjungan lapangan bagi masyarakat
• Studi banding bagi masyarakat
3. Community Relation
Kegiatan ini berkaitan dengan pengembangan kesepahaman yang dilakukan melalui komunikasi dan informasi kepada pihak-pihak terkait. Kegiatan ini dapat juga diadakan dalam rangka memperingati hari-hari yang berhubungan dengan kesehatan, serta hari besar nasional/ daerah.
Kegiatan ini meliputi :
• Penyuluhan kesehatan baik secara langsung kepada masyarakat ataupun melalui media informasi
• Konsultasi publik

2.8.2. Sifat Kegiatan
• Lintas program
Kegiatan ini diharapkan dapat melibatkan berbagai disiplin ilmu dari berbagai program studi yang ada di Fakultas Kedokteran
• Lintas sektor
Berbagai dinas dan instansi terkait serta lembaga swadaya masyarakat dapat bekerjasama berdasarkan musyawarah dan kesepakatan bersama

2.8.3. Sifat Bantuan dan Kerjasama
Dalam kegiatan pengabdian dan pengembangan masyarakat ini dapat diberikan bantuan sengan sifat sebagai berikut :
• Dalam kegiatan pengembangan masyarakat dalam bidang kesehatan yang dilakukan nantinya dapat diberikan bantuan non materiil yang bersifat asistensi, mediasi, dan konsultasi maupun bantuan materiil.
• Sedangkan dalam kegiatan penelitian dapat dilakukan konsultasi dan kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk melaksanakan penelitian kemasyarakatan.

2.8.4. Sasaran
Masyarakat Malang Raya

2.8.5. Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat mewakili komunitas kota, desa, pegunungan, dan pantai di wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu. Salah satu kecamatan akan dipilih untuk mewakili masing-masing wilayah sebagai lokasi kegiatan. Hal ini dimaksudkan supaya dapat dilakukan pemantauan dampak program dengan lebih baik. Diutamakan lokasi kegiatan ádalah kelurahan/ desa yang pernah disurvei oleh Tim Pengabdian Masyarakat FKUB yaitu :
1. Kabupaten Malang (33 kecamatan) :
a. Kecamatan Pantai : Kecamatan Bantur (Desa Srigonco), Kecamatan Donomulyo (Desa Donomulyo)
b. Kecamatan Pertanian Dataran Tinggi : Kecamatan Pujon (Desa Pandesari dan Desa Pujon Kidul),
c. Kecamatan Lingkar Kota Malang : Kecamatan Dau (Desa Mulyo Agung dan Desa Tegal Weru), Singosari (Desa Watugede, Desa Gunung Rejo, Desa Purwoasri) , Pakis Aji (Desa Glanggang, Desa Wonokerso, Desa Karang Duren),
d. Kecamatan Pertanian Dataran Rendah : Gondang Legi (Desa Karang Suko, Desa Kanigoro, Desa Gondang Legi Kulon), Sumber Pucung (Desa sumber Pucung, Desa Ternyang, Desa Karang Kates), Tumpang (Desa Nidal, Desa Kambingan, Desa Duwet Krajan), Lawang (Desa Wonorejo, Desa Ketindan, Desa Lawang)
2. Kota Malang (5 kecamatan pada 4 kelurahan) : Kelurahan Sukoharjo (Kecamatan Klojen), Kelurahan Bunulrejo (Kecamatan Blimbing), Kelurahan Sukun (Kecamatan Sukun), Kelurahan Tegalsari (Kecamatan Kedung Kandang)
3. Kota Batu (3 Kecamatan dipilih Kecamatan Bumiaji (Desa Gunungsari dan Desa Giri Purno)).

2.8.6. Peran Staf Pengajar dan Mahasiswa
Mahasiswa dapat ikut serta dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen dengan mendaftar terlebih dahulu lepada staf administrasi UPPM.
Staf Pengajar akan berperan sebagai pelaksana yang terlibat secara langsung dalam proses penyusunan proposal, perencanaan kegiatan, pelaksanaan, monitoring, dan pelaporan hasil. Sedangkan mahasiswa dapat berperan membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan.



2.8.7. Usulan Kegiatan Pengabdian Masyarakat
Usulan kegiatan pengabdian masyarakat dari Laboratorium/ Jurusan baik yang berupa program pemberdayaan maupun pelayanan yang masuk ke UPPM akan melalui tahapan sebagai berikut :


Sedangkan usulan kegiatan pengabdian masyarakat berupa program bersama yang berupa program pemberdayaan maupun program pelayanan akan melalui tahapan sebagai berikut :




Usulan kegiatan pengabdian masyarakat oleh Divisi Pelayanan maupun Divisi Pendidikan dan Pelatihan baik yang berupa program pemberdayaan maupun program pelayanan akan melalui tahapan sebagai berikut :

2.8.8. Rencana Evaluasi Kegiatan
Evaluasi akan dilakukan baik terhadap program di lokasi kegiatan maupun terhadap kinerja Tim Pengusul/ Pelaksana Kegiatan
1. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan ini akan dilakukan oleh Tim Pengusul/ Pelaksana Kegiatan sendiri bersama-sama dengan masyarakat di daerah pelaksanaan program. Periode monitoring dan evaluasi ditentukan berdasarkan kesepakatan antara Tim Pengusul/ Pelaksana Kegiatan dan masyarakat.
2. Evaluasi Formatif
Evaluasi ini berupa supervisi kegiatan oleh reviewer.
3. Evaluasi Sumatif
Evaluasi ini berupa presentasi laporan hasil kegiatan di hadapan reviewer.

Senin, 11 Oktober 2010

Penggunaan Perangkat Diagnosis Dini Penyakit Infeksi Bakterial Berbasis Molekul Adhesin

Patogenesis penyakit infeksi khususnya bakteri dimulai dengan proses adhesi (pelekatan) sel bakteri pada sel hospes yang diperantarai oleh molekul adhesin yang biasanya berupa protein. Molekul Adhesin merupakan salah satu faktor virulensi bakteri pathogen yang umumnya terdapat pada permukaan sel, misalnya protein fimbria, outer membrane protein (OMP). Pada sejumlah besar bakteri pathogen protein adhesin merupakan protein hemaglutinin.
Dasar pengetahuan mengenai tahap pelekatan bakteri pada sel hospes merupakan paradigma baru dalam bidang Mikrobiologi Klinik mengenai peran molekul adhesin bakteri dalam pengembangan teknologi pencegahan terhadap penyakit infeksi yang dikemas dalam bentuk diagnosis dini dan kandidat vaksin. Salah satu penyakit infeksi yang masih endemis di Indonesia adalah demam tifoid sehingga penyakit ini memerlukan perhatian khusus.
Perumusan masalah dalam lokakarya ini adalah: 1) untuk mengetahui peranan protein adhesin sebagai alat untuk mengembangkan sarana diagnosis dini penyakit infeksi bakteri, 2) untuk mengetahui penggunaan perangkat diagnosis dini penyakit infeksi bakterial berbasis molekul adhesin.
Kegiatan kongres Nasional VI Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Indonesia dilaksanakan pada tanggal 16-17 November 2006, bertempat di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.
Dari hasil lokakarya tersebut dapat disimpulkan bahwa Workshop ”Peranan Protein Adhesin Sebagai Alat Untuk Mengembangkan Sarana Diagnosis Dini Penyakit Infeksi Bakterial”, yang diselenggarakan pada tanggal 16-17 November 2006 di Lab.Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dalam rangka memeriahkan pelaksanaan Konas PAMKI VI, (a) sukses dilaksanakan tanpa kendala dan peserta yang mendaftar melebih target, (b) melihat berhasilnya workshop dapat diartikan bahwa pengetahuan tentang ”Molekul Adhesin” saat ini masih merupakan salah satu topik di dunia kedokteran yang banyak diminati.

Pengembangan Nutrition Care Process/NCP (Asuhan Gizi) Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Makin meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan paripurna perlu dicermati oleh para pelaku profesi kesehatan. Ahli gizi sebagai bagian dari Health Care Team dituntut untuk semakin meningkatkan kinerjanya dalam memberikan asuhan gizi paripurna. Tuntutan ini memaksa profesi gizi untuk bercermin dan berusaha menyetarakan diri dengan dunia internasional seiring dengan wacana globalisasi yang terus berkembang.
Di Indonesia masih terjadi kesenjangan antara profesi kesehatan dimana para ahli gizi masih dianggap sebagai profesi yang belum bisa disejajarkan dengan profesi kesehatan lainnya, semisal dokter. Bahkan ada anggapan yang menyatakan bahwa ahli gizi hanya bisa memberi pelayanan setelah ada perintah dari penanggung jawab health care team, atau nutrition care by order. Hal seperti ini tentu saja tidak bisa diabaikan. Sehingga diperlukan ahli gizi yang dapat bertanggung jawab atas kewenangan yang dimliki dengan dasar pendidikan gizi yang terakreditasi maupun program keprofesian gizi.
Salah satu prioritas kegiatan yang harus dilaksanakan oleh ahli gizi untuk memenuhi ADA Strategic Plan adalah dengan menerapkan Nutrition Care Process (NCP) atau asuhan gizi yang terstandarisasi. Ketika proses tersebut diterapkan secara konsisten sebagai metode sistematik untuk berpikir kritis dan dasar pengambilan keputusan untuk mewujudkan asuhan gizi yang aman dan efektif, maka performa profesi gizi dapat meningkatkan.
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, sebagai institusi penyelenggara pendidikan gizi yang tergabung dalam Asosiasi Institusi Pendidikan Gizi Indonesia, berupaya menata pendidikan dan kurikulum profesi Gizi. Tatanan pendidikan maupun kurikulum profesi Gizi mengacu pada ketentuan yang diterapkan oleh Commision On Accreditation For Dietetic Education. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk menselelaraskan antara pendidikan Gizi dengan Aplikasi Ilmu Gizi di Lapangan, PS Ilmu Gizi Kesehatan FK Unibraw Malang telah menyelenggarakan program yang berkesinambungan tentang pengkajian dan aplikasi NCP.
Kegiatan ini bernama ”Pengembangan Nutrition Care Process (Asuhan Gizi) Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan FK Universitas Brawijaya Malang.” yang terdiri dari: 1) Studi banding di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, 2) Mengikuti lokakarya aplikasi NCP, 3) Bantuan tenaga ahli gizi di rumah sakit, 4) jaringan pengembangan NCP berbasis rumah sakit.
Tujuan kegiatan ini adalah : 1) mendapatkan pemahaman yang benar tentang konsep NCP, 2) mendapatkan gambaran tentang aplikasi NCP di rumah sakit, 3) menggali masukan dari profesional gizi di rumah sakit tentang pengembangan dan aplikasi NCP, 4) menterjemahkan konsep NCP di institusi pendidikan maupun aplikasinya di rumah sakit. 5) membentuk jaringan rumah sakit sebagai lahan pengembangan dan aplikasi NCP, 6) Membangun kerjasama dengan rumah sakit sebagai lahan pre dietary internship.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam kurun waktu 1 (satu) semester pada semester genap tahun akademik 2006-2007 (Februari – Juli 2007).

TOT (Training of Trainer) Occupational Dermatology yang ke V

Melihat semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, diharapkan profesi kedokteran dapat berperan sebagai “agent of change dalam bidang kesehatan”
Universitas Brawijaya dan RSU dr.Saiful Anwar Malang sebagai salah satu instansi penyelenggara pendidikan kedokteran dan institusi pelaksana kesehatan perlu meningkatkan profesionalisme kerja khususnya bagi laboratorium-laboratorium di lingkungan Universitas Brawijaya dan RSU dr.Saiful Anwar Malang.
Menindaklanjuti hal tersebut Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUB/RSSA bekerja sama dengan TIM SIF (Singapore International Foundation) telah mengadakan TOT (Training of Trainer) Occupational Dermatology yang telah terselenggara sebanyak 4 kali.
Melanjutkan TOT (Training of Trainer) Occupational Dermatology yang ke IV maka pada tanggal 3-5 Juni FKUB/RSSA telah mengadakan TOT (Training of Trainer) Occupational Dermatology yang ke V.
Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan khususnya bidang Dermatology. Sasaran pelatihan ini adalah:
1. Staff pengajar ilmu kesehatan kulit dan kelamin FKUB/RSSA
2. Dokter Puskesmas se Malang Raya
3. Dokter spesialis baik dari Malang ataupun dari pusat-pusat studi di Indonesia.

Management of Acute Coronary Sindrome With Metabolic Disorders

Penyakit jantung koroner dan stroke menjadi penyakit yang mematikan nomor satu di dunia dan di Indonesia, penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor satu sejak tahun 1986. Penyakit Jantung Koroner dan stroke termasuk dalam penyakit kardiovaskuler. Kardiovaskuler sendiri berarti jantung dan pembuluh darah. Sebelumnya, infeksi sebagai penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia. Tetapi dengan antibiotik dan pengembangan kebersihan lainnya, penyakit jantung koroner dan stroke yang kemudian menonjol.
Tujuan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan VI (PKB) Kardiovaskuler ini adalah:
1. Untuk memahami hubungan antara penelitian dasar dan klinik yang akhirnya dapat bermanfaat bagi penderita-penderita kardiovaskuler.
2. Untuk menjembatani antara dunia kedokteran dengan perkembangan mutakhir di bidang kardiovaskuler.
3. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan VI sebagai sarana untuk berdiskusi dengan pakar, membahas kasus-kasus yang terkait dengan kegawat kardiovaskuler.
Pelaksanaan pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) pada tanggal 10 Maret 2007 dengan tema “Management of Acute Coronary Syndrome with Methabolic Disorders”.
Moderator dalam acara simposium I adalah Dr.Sasmojo Widito, SpJP dengan tema Up Date on The Management of Acute Coronary Syndrome, sedangkan Dr.Dadang Hendrawan, SpJP(K)FIHA dengan tema Beyond Combination Treatment in Hyperstensive Patients.
Moderator dalam simposium II adalah Dr.Pawik Supriadi, SpJP(K) FIHA dengan tema Beta Blokers in Chroni Hearts Failure : From Evidence Based Medicine to Clinical Acceptance, Prof.Dr.Djanggan Sargowo, SpPD.SpJP(K) FIHA FACC dengan tema Optimal Lipid Treatment for Reducing CV Risk.

Pengelolaan Sampah dan TOGA Terpadu dan Berkelanjutan

Pengelolaan sampah sampai saat ini masih jauh dari memadai. Akibatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, petugas, maupun pemerintah. Sampai saat ini masyarakat belum banyak dilibatkan dalam menangani sampah padahal rumah tangga adalah penghasil sampah yang utama dan kemampuan pemerintah untuk menangani masalah sampah masih terbatas. Di samping itu kesadaran masyarakat akan dampak kesehatan dan ekologis dari pengelolaan sampah yang kurang baik masih rendah. Kesadaran semua elemen masyarakat akan pentingnya memilah-milah sampah juga masih sangat rendah. Artinya komitmen masyarakat untuk mengolah sampah secara ramah lingkungan masih rendah. Pengelolaan sampah ramah lingkungan barangkali juga belum banyak dikenal oleh masyarakat.
Apabila kegiatan ini dapat terus bergulir nantinya diharapkan dapat memberi manfaat kepada pemerintah dengan menghemat dana untuk lahan TPA danpenggunaan truk. Bagi pasukan kuning program ini nantinya dapat mengurangi paparan sampah. Bagi masyarakat umum, bisa mendapatkan pupuk organik dengan murah dan lingkungannya menjadi bersih.
Pada program ini yang menjadi khalayak sasaran yang strategis adalah murid SMP, Karang taruna, ibu-ibu PKK. tokoh masyarakat, dan petugas kebersihan. Mereka dianggap merupakan kelompok yang keingintahuannya lebih banyak dan keinginan untuk menyebarkan ke lingkungan sekitarnya juga tinggi.
Pada prinsipnya terdapat 3 macam kegiatan yang dilaksanakan, yaitu:
1. Community Service :
 Pemeriksaan, Pengobatan Gratis & Konsultasi gizi bagi masyarakat peduli masalah sampah
 Pemberian Alat Pelindung Diri (APD) bagi Petugas kebersihan
2. Community Empowering :
 Pelatihan Pembuatan Kompos & Pengelolaan Sampah
o Focus Group Discussion
o Studi Banding
 Pelatihan pengelolaan TOGA
 Pendampingan
3. Community Relation :
 Lomba poster dan Kebersihan kelas
 Publikasi melalui Malang Post
Hasil kegiatan
Dari FGD yang dilakukan pada 4 April 2007 dan 6 September 2007 didapatkan informasi bahwa kesadaran masyarakat akan masalah sampah masih rendah akan tetapi masyarakat mempunyai keinginan untuk mengetahui pengelolaan sampah ramah lingkungan ini. Masyarakat juga masih beranggapan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan biaya banyak.
Selanjutnya diadakan Pelatihan Pengolahan Sampah dan TOGA bagi siswa siswi SMPN 20 pada 6 September 2007. Peserta sangat antusias dengan banyak banyaknya pertanyaan saat peragaan pembuatan komposter sederhana dilakukan. Game-game yang dipandu oleh Tunas Hijau tampaknya mampu memeriahkan acara. Slide-slide yang berisi tentang dampak pencemaran baik untuk saat ini maupun masa yang akan datang juga sangat menyita perhatian peserta. Peserta berkomitmen untuk menyampaikan hasil pelatihan ini kepada teman-temannya yang tidak ikut.
Pelatihan serupa juga diadakan bagi Tokoh Masyarakat, Karang Taruna, dan PKK pada 10-11 September 2007. Peserta sangat antusias mengikuti penyampaian materi dan praktek pembuatan komposter. Di akhir acara disepakati oleh semua peserta bahwa sebagai RW percontohan adalah RW 1 dan RW 2.
Untuk memantau keberhasilan program dilakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang pertama kali pada 6 November 2007. Dari kegiatan monev ini didapatkan hasil bahwa dari seluruh peserta yang hadir telah mensosialisasikan kegiatan pengolahan sampah. Pada kesempatan itu juga dibicarakan rencana Studi Banding ke Pusdakota Surabaya dan dibagikan komposter dan TOGA. Masing-masing RW mendapatkan 1 komposter dan 1 pot tanaman rosemeri. Sedangkan RW 1 dan RW 2 masing-masing mendapatkan 15 komposter, 15 pot rosemeri, dan 1 pot Zodia.
Untuk memantapkan hasil pelatihan maka dilakukan Studi Banding Tim Pengabdian Masyarakat FKUB dan Warga Bunul Rejo Kec. Blimbing Kota Malang ke PUSDAKOTA – UBAYA Surabaya pada 10 Nopember 2007. Studi Banding ini bertujuan untuk melihat, belajar, serta membandingkan secara langsung pengelolahan sampah terpadu & pemanfaatan tanaman TOGA yang sudah dilakukan masyarakat rungkut Lor dengan pendampingan dari Pusdakota Ubaya Surabaya. Pendampingan yang sudah berjalan 7 tahun tersebut berhasil memberdayakan masyarakat. Area yang dulunya kering, tandus, kotor, kumuh, tak terawat dan menjadi langganan banjir kini menjadi bersih, hijau dan bebas dari banjir. Dalam acara tersebut perwakilan masyarakat Bunul Rejo sangat antusias mengikuti program. Mereka berjanji akan mengupayakan program pengelolahan sampah ini disosialisasikan ke seluruh elemen warga dan segera mengaplikasikan program tersebut di masyarakat. Tokoh Masyarakat dan karang taruna akan berperan sebagai motor penggerak.
Sebagai reward bagi masyarakat yang peduli sampah maka pada 11 November 2007 diadakan Pemeriksaan, Pengobatan Gratis dan Konsultasi Gizi. Kegiatan ini diikuti oleh lebih kurang 100 warga. Pada kesempatan itu juga dibagikan Alat Pelindung Diri (APD) bagi pasukan kuning di wilayah kelurahan Bunul Rejo.
Sasaran siswa juga tidak kalah pentingnya. Pada 15 Desember 2007 dilakukan Monitoring dan Evaluasi di SMPN 20. Dari kegiatan ini tampak terdapat perubahan lingkungan di SMPN 20. Keranjang sampah yang memisahkan sampah kering dan basah mulai terpasang di beberapa halaman kelas.
Dari kegiatan monitoring evaluasi 2 yang dilaksanakan di RW 1 dan RW 2 kelurahan Bunulrejo didapatkan hasil bahwa warga yang menerima komposter telah melakukan proses komposting terhadap sampah organik yang dihasilkan rumah tangga masing-masing. antusiasme warga terhadap kegiatan ini sangat besar. Salah seorang bapak ketua RT peserta pelatihan dan studi banding dapat menjadi pelopor (kader) kegiatan ini. Kesuksesan kegiatan pengabdian masyarakat di RW 2 ditunjukkan antara lain dengan adanya semangat kader untuk mencoba beberapa tehnik komposting.

Untuk lebih membudayakan kepedulian pada masalah sampah maka pada 29 Desember 2007 diadakan Lomba Poster dan Kebersihan Kelas di SMPN 20. Selanjutnya mereka dapat berperan sebagai agent of change di keluarganya masing-masing. Lomba poster bertema Problematika Sampah, dan TOGA ini diikuti siswa- siswi kelas VII dan VIII. Lomba Kebersihan Kelas dimenangakan oleh Kelas ....sebagai juara I dengan hadiah Kotak P3K besar, Alat kebersihan kelas, serta 2 KOMPOSTER besar & manualnya. Sedangkan Juara II adalah Kelas... dengan hadiah Kotak P3K kecil, Alat kebersihan kelas, serta 1 KOMPOSTER besar & manualnya.
Untuk lomba poster dimenangkan oleh kelas VII D, Kelas VII A, dan Kelas VIII E. Pemenang mendapatkan Piagam Penghargaan yang ditandatangani Ketua Tim Penmas FKUB, uang sejumlah (Rp.100.000,- - Rp.300.000,-), serta souvenir kaos FKUB 3 buah

Bakti Sosial Korban Banjir oleh Tim Emergensi dan Disaster di Kabupaten Ngawi dan Bojonegoro

Musibah banjir melanda sebagian besar kota dan kabupaten di Jawa Timur akibat luapan sungai Bengawan Solo. Daerah yang paling parah terkena banjir di Jawa Timur adalah daerah kabupaten Ngawi dan Bojonegoro. Kondisi ribuan korban banjir memprihatinkan. Hingga Jumat, 28 Desember 2007 belum ada posko bencana yang layak bagi korban banjir.
Berdasarkan kondisi di atas maka Tim Emergensi dan Disaster Universitas Brawijaya melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana banjir di daerah Ngawi dan Bojonegoro Jawa Timur dengan dipelopori oleh Unit Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang berkerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Univeritas Brawijaya dan elemen diluar Universitas Brawijaya. Tim ini dibentuk dengan tujuan membantu masyarakat yang berada di area bencana banjir dalam bentuk pelayanan kesehatan dan mitigasi bencana. Pada 29 Desember 2007 jam 19.30 WIB, tim yang terdiri dari 1 orang dokter, 3 mahasiswa keperawatan, 2 mahasiswa kedokteran, 1 mahasiswa gizi, 5 mahasiswa KSR Unibraw, 1 orang ORARI dan 1 orang sopir diberangkatkan ke Ngawi. Pada hari yang sama jam 20.00 diberangkatkan juga tim ke Bojonegoro yang terdiri dari 4 mahasiswa kedokteran, 3 mahasiswa KSR Unibraw dan 1 orang sopir.
Pada 31 Desember 2007 jam 22.06 WIB, koordinator logistik melaporkan bahwa semua tim yang berada di Bojonegoro dan Ngawi ditarik pulang ke Malang karena peralatan untuk keamanan personil terhadap bahaya banjir kurang memadai. Tanggal 01 Januari 2008 jam 07.00 WIB semua tim tiba di Fakultas Kedokteran dan memberikan laporan ke pengelola Tim Emergensi dan Disaster Unibraw.
Kegiatan ini berjalan dengan selamat dan sukses atas dukungan dari pimpinan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dan keikhlasan anggota tim dalam melakukan tugas serta kerjasama yang baik dengan masyarakat dan instansi Pemerintah Kabupaten Ngawi dan Bojonegoro.

Bakti Sosial Tim Emergensi dan Disaster di Gunung Kelud Kabupaten Blitar

Pada tanggal 29 September 2007, aktifitas gunung Kelud kembali meningkat hingga status Level 3 (siaga). Aktifitas tersebut mengalami peningkatan secara bertahap hingga pada tanggal 16 Oktober 2007, status gunung Kelud dinaikkan menjadi level 4 (awas). Berdasarkan kondisi di atas, dipelopori oleh Unit Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang berkerjasama dengan berbagai elemen yang ada di Univeritas Brawijaya maupun diluar Universitas Brawijaya, maka terbentuklah Tim Emergensi dan Disaster Universitas Brawijaya.
Tim ini dibentuk dengan tujuan membantu masyarakat yang berada di area berbahaya gunung Kelud dalam bentuk mitigasi bencana dan penanganan pasca bencana. Sasarannya dalah Desa Sumber Asri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.
Dalam bakti sosial tersebut dilakukan survei di lokasi yang termasuk dalam jalur bencana dan koordinasi terlebih dahulu dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Blitar. Setelah status AWAS diberlakukan pada tanggal 16 Oktober 2007 jam 23.30 Tim Emergensi dan Disaster Unibraw diberangkatkan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Unibraw. Lokasi Posko adalah di Desa Sumber Asri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Tanggal 2 November 2007 Posko Tim Emergensi dan Disaster Unibraw dipindahkan ke Puskesmas Kecamatan Nglegok yang berjarak 500 meter dari tempat pengungsian. Tanggal 8 November 2007 status gunung kelud diturunkan menjadi SIAGA dan Tim Emergensi dan Disaster Unibraw yang berada di posko dipulangkan ke Unibraw Malang.
Pada bakti sosial tersebut Tim Emergensi dan Disaster secara rutin memberikan air bersih, melakukan pengobatan massal bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dan bekerjasama dengan Telkomsel dalam pengobatan massal.
Tim terdiri dari dokter, PPDS, perawat, mahasiswa (FKUB, Elang Biru, IMPALA Unibraw, KSR), ORARI, sopir, Malang Willis Club.

PELATIHAN PENANGANAN KASUS KEGAWATDARURATAN PADA KECELAKAAN, RUDAPAKSA DAN BENCANA BAGI MASYARAKAT DI KABUPATEN MALANG

Banyaknya kecelakaan transportasi dan kejadian bencana di Indonesia seringkali menimbulkan banyak korban. Salah satu cara untuk mengurangi korban adalah dengan mengelola musibah bencana dan kecelakaan secara baik dan benar. Dengan dasar pemikiran tersebut Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang mengadakan pelatihan kegawatdaruratan ini.
Acara ini dilaksanakan di Balai Diklat Dinas Sosial Kota Malang pada 4-5 September 2007. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar kepada masyarakat awam dalam menghadapi musibah massal. Kegiatan ini berupa ceramah - tanya jawab dan praktek. Peserta adalah tenaga kesehatan Puskesmas non medis, kader kesehatan desa, karang taruna, dan tokoh masyarakat.

TRAINING OF TRAINER (TOT) KEGAWAT DARURATAN DALAM MEWUJUKAN DESA SIAGA DI WILAYAH MALANG RAYA

Salah satu sasaran terpenting yang dirumuskan oleh Departemen Kesehatan adalah terwujudnya Desa Siaga seluruh Indonesia. Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap ancaman kesehatan masyarkat yang berpotensi menjadi KLB dan berbagai bencana, dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat secara gotong royong. Disisi lain Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya merumuskan strategi bahwa ”FKUB menjadi pelopor pemberdayaan kader kesehatan desa dalam penanganan kegawat-daruratan kesehatan tingkat dasar.” Dengan adanya keterkaitan antara strategi nasional dengan strategi FKUB maka FKUB perlu menghasilkan pelatih-pelatih masyarakat dalam hal kegawat daruratan, dalam bentuk Training of Trainer (TOT) bagi staf pengajar FKUB yang terdiri dari Pendidikan Dokter, Keperawatan dan Gizi.
TOT yang bertempat di Ruang Pertemuan Biomedik FK Unibraw dilaksanakan pada Hari Rabu dan Kamis (22 dan 23 Agustus 2007) jam 08.00 – 16.00 WIB. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat FKUB bekerja sama dengan Laboratorium IRD, Laboratorium Public Health dan Dinas Kesehatan se-Malang Raya sebagai leading sector.
Peserta TOT adalah staf pengajar tiga jurusan yaitu Jurusan Kedokteran, Jurusan Keperawatan, Jurusan Gizi, anggota Tim PENMAS, dan tenaga dokter/perawat dari Dinas Kesehatan se-Malang Raya. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan praktek. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan kelompok trainer yang siap ditugaskan memberikan pelatihan-pelatihan (SPGD Terpadu) kepada sasaran yaitu KESI, DESI, PENSI dan kelompok Masyarakat Khusus

TEENAGER EDUCATION OF HEALTH REPRODUCTION Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) Penanggulangan Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja

Kegiatan yang diadakan pada 26 Desember 2006 ini bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi remaja, menumbuhkan kepedulian bersama untuk menanggulangi masalah kesehatan reproduksi remaja, menggali masukan dari pendidik dan remaja tentang permasalah kesehatan reproduksi, membangun komitmen untuk membuat jejaring (networking) dalam rangka mewujudkan kesehatan reproduksi berbasis sekolah yang berkesinambungan.
Peserta kegiatan ini adalah guru-guru pembina UKS, Bimbingna Konseling (BK), Biologi, Olah Raga, dan pengurus OSIS dari SMU se-Malang Raya. Masing-masing sekolah dihadiri oleh 2 guru dan 3 pelajar.
Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa 1) sebagian besar siswa berpendapat bahwa acara ini bermanfaat bagi penanggulangan masalah kesehatan reproduksi remaja, 2) sebagian besar siswa berpendapat bahwa ceramah yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan sekolah, 3) acara ini perlu ditindaklanjuti pada masa mendatang.

Survei Pemetaan Masalah Kesehatan Masyarakat di Malang Raya 2006

Unit Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) pada bulan September 2006 hingga September 2007 telah melakukan survei untuk memetakan masalah kesehatan masyarakat di Malang Raya (kota Malang, Kabupaten Malang, dan kota Batu) dan potensi penanggulangannya dengan melibatkan masyarakat. Survei ini merupakan salah satu dasar perencanaan program dan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat nantinya.
Survei bertujuan untuk mengetahui distribusi masalah kesehatan menurut pengelola program kesehatan yang ada di Malang Raya, persepsi masyarakat tentang masalah kesehatan yang ada di daerahnya, potensi pelibatan masyarakat dalam penanggulangan masalah kesehatan, serta prioritas masalah kesehatan yang ada di Malang Raya.
Metode yang digunakan adalah Survei Cepat (Rapid Survey) dengan menggabungkan (Mixed Design) pendekatan kualitatif dan kuantitatif (Creswell, 2003). Survei ini akan dilaksanakan di 30 desa/ kelurahan dengan rincian sebagai berikut : 10 kecamatan di Kabupaten Malang (24 desa), 4 kecamatan di kota Malang (4 kelurahan), dan 1 kecamatan di kota Batu (2 desa). Semua tokoh desa/ kelurahan (Lurah/ Pejabat Desa, Ketua RW, Ketua RT, Tokoh Agama, bidan desa, Kader Kesehatan, guru SD setempat) yang ada di wilayah penelitian menjadi populasi dalam survei ini. Pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD), pengisian kuesioner, dan pengumpulan data sekunder puskesmas dan Dinkes setempat.

Towards Better Nutritional Care in Health and Disease



Seiring dengan cepatnya kemajuan dan perkembangan ilmu gizi di Indonesia, Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Jawa Timur dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Jawa Timur telah menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Nasional Malang Nutritional Update (MNU) I dengan tema ”Toward Better Nutritional Care in Health & Disease. Simposium ini terdiri dari diskusi panel dan pameran, dan diselenggarakan di Swarnapaksi  Hall Kartika Graha Hotel - Malang pada tanggal 26-27 Agustus 2006.
MNU I ini merupakan pertemuan ilmiah nasional pertama di kota Malang yang membahas tentang ilmu-ilmu terbaru bidang gizi dan kesehatan, aplikasi terbaru bidang gizi klinik, gizi komunitas dan tehnologi pangan, dan workshop Nutritional Assessment.
Kegiatan ini diharapkan bisa memberikan pendidikan lanjut bagi dokter, ahli gizi perawat, farmasi, dan tenaga kesehatan lain yang tertarik dalam kemajuan bidang gizi.
            Peserta Pertemuan Ilmiah Nasional sejumlah 246 orang yang hadir berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua) dan dari berbagai profesi kesehatan yaitu : 21 orang dokter (dokter rumah sakit/Puskesmas), 204 orang ahli gizi (PERSAGI/ASDI/Dinas Kesehatan) dan 4 orang perawat, 1 orang dari industri farmasi dan 16 mahasiswa S1 Gizi/D3 Gizi. Peserta seminar public sejumlah 39 orang yang hadir berasal dari masyarakat awam (klinik kecantikan/masyarakat/ PKK), perawat dan ahli gizi.
Acara ini menghadirkan pembicara yang menarik peserta di antaranya  Prof. Dr. Boediwarsono, SpPD, KHOM, PGD, Pall, Med (ECU), dr. Ongko Susetia Totoprajogo MNs, Sp.GK. ,  dr. Pramita G. Dwipoerwantoro,Sp.A (K). Materi pada acara ini yang menarik peserta adalah More Freedom and Better Glycaemic Control with Carbohydrate Counting, Makanan Formula WHO Untuk Anak Gizi Buruk, Immuno Nutrition, dan Nutrition Care Process.
Kegiatan MNU I yang merupakan sarana pendidikan bagi untuk memajukan ilmu gizi telah mendapatkan sambutan yang sangat menggembirakan dari kalangan dokter, ahli gizi, perawat, farmasi, dan tenaga kesehatan lainnya. Acara tersebut dapat terlaksana hanya berkat dukungan moral dan material dari semua pihak, PDGKI Jawa Timur, PERSAGI Jawa Timur, FK Unibraw, para pembicara, donatur, peserta dan pihak-pihak lainnya. Sebagaimana diharapkan, MNU telah dicanangkan menjadi agenda rutin untuk memfasilitasi kebutuhan peningkatan wawasan bagi profesi kesehatan yang menekuni bidang gizi secara nasional. Sebagian besar peserta menyatakan kesediaannya untuk mengikuti MNU mendatang.
Panitia telah memberikan yang terbaik untuk pelaksanaan kegiatan MNU I, masukan konstruktif dari semua pihak juga telah catat dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari sistem dokumentasi MNU ini untuk pelaksanaan MNU mendatang yang lebih baik. Panitia berharap pelaksanaan MNU di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan memperhatikan catatan-catatan tersebut serta menyesuaikan dengan perkembangan ilmu gizi yang ada.